Total Tayangan Halaman

Minggu, 28 Agustus 2011

latar belakang berdirinya outsiders

Pada tgl 2 Mei 2008 di sebuah t4 bernama Jendelo,sekelompok anak muda pecinta SID sepakat membentuk komunitas Jogja Outsider sbg wadah utk berkumpul bagi kalian2 sesama pecinta SID.Tujuan kami adalah membentuk wadah yg bersifat kekeluargaan bagi kami sesama pecinta SID utk berbagi info,pikiran,kesenangan dan ide2 kreatif dr masing2 anggotanya.
dgn berjalannya waktu jumlah anggota Jogja Outsider makin banyak dan kami memutuskan pindah markas di Kali Code,dimana disitu t4 yg nyaman utk kumpul sambil minum kopi bersama.

Seiring waktu berjalan,tak terasa genap 1th Jogja Outsiders bersama.Suka duka,pahit manis,benci cinta telah kita lewati bersama.dan di th pertama sejak terbentuknya komunitas Jogja Outsider maka kami memutuskan utk mengadakan regenerasi kepengurusan baru.setelah dgn banyak perundingan dan sbagainya dr masing2 anggota maka terpilihnya PERENK sbg ketua Jogja Outsider yg baru dan didampingi BUNCIZ di posisi Wakil ketua.diharapkan setelah regenerasi yg baru ini Jogja Outsider makin menuju langkah yg progresif.

Satu langkah lebih maju,kini kita bersyukur bisa mempunyai basecamp sendiri.basecamp yg nyaman,terhindar dr hujan dan dpt lbh leluasa utk menuangkan ide2 kreatif dr masing2 anggota.
di basecamp kami ini kalian2 sesama outsider dpt ikut serta menuangkan pikiran,tukar info,ide2 brilian.tidak terbatas di komunitas Jogja Outsider saja tp utk smua Outsider dimanapun kalian berada.

Akhir kata penutup,kami selaku anggota dan seluruh outsider ucapkan selamat kepada Perenk dan Bunciz yg telah dipilih menjadi ketua dan wakil yg baru.semoga kalian dpt mengerjakan tanggung jwab dan memegang kepercayaan yg telah diberikan anggota kpd kalian.



Yogyakarta,24 Januari 2009,
Best ReGards,
-Dewi'DeeLicious DJ'-
Diposkan oleh view_cand di 23:58 0 komentar
Label: Sejarah Outsider Jogja
Reaksi:

We Are The OutSIDer SID

June 4, 2009

Sedikit Profil Bangunnya Superman Is Dead!
Band yang terbentuk tahun 1995(baru umur 3 tahun saya) karena personil sebuah band heavy metal Thunder bernama Ari Astina aka Jerinx merasa bosan yang ingin mencari sesuatu yang baru dan juga drummer band new wave punk Diamond Clash Budi Sartika aka Bobby Cool juga sedang ingin berganti profesi tuk menjadi seorg gitaris dan vokalis. Secara kebetulan kedua pemuda ini Bertemu di Kuta bali. Pada saat itu posisi bass masih diisi oleh additional bassist bernama Ajuz.dan lagu Grenn day yang mengisi mereka di konser konser SID. namun tak lama kemudian,lewat seorg drug dealer…datanglah seorg bernama Eka Arsana aka Eka Rock….dan dia ini kebetulan sedang dlm pencarian identitas diri,oleh krn itu merasa tertarik dg visi dari kedua pemuda tersebut…maka resmilah eka bergabung dg Jerinx juga Bobby…Dan pada saat itu mrkpun mengambil nama dulu yang bernama Superman’s SilverGun di ubah menjadi SUPERMAN IS DEAD!

keseharian mereka ini tidak lepas sama alkohol!
Sampai kapan SID akan berdiri? ” Selama masih ada Alkohol”

dan Fans Superman is dead yang Bernama OutSIDer

We Are The OutSIDer!

Salah satu kebanggaan kami sebagai outsider.
batapa bangganya kami sebagai outsider, kususnya outsider ponorogo mendengar berita bahwa
Superman Is Dead manggung di 16 kota di Amerika, dalam rangkaian tour ‘From Bali With Rock’ dan ‘Warped Tour 2009′ pada 12 Juni hingga 9 Juli. Dua konser yang waktunya beruntun tersebut merupakan mimpi agung Superman Is Dead, selama ini (kata boby sang vokalis+gitaris)

“Ini pencapaian yang kami impikan sekaligus sebagai pijakan untuk membuka mata hati industri musik kita agar bersikap lebih fair terhadap seni musik alternatif,” kata Bobby.

Konser berlabel “From Bali With Rock” yang digalang oleh “event organizer” asal Philadelphia, Mastra Production, merupakan konser untuk mempromosikan Pulau Bali dan Indonesia pada umumnya kepada publik Amerika.

“Intinya kami akan mempromosikan Bali dan Indonesia pada khususnya sebagai tempat yang indah untuk dikunjungi dengan segala kerukunan dan keanekaragamannya,” kata Bobby.

Sedangkan dalam konser Vans Warped Tour, SID merupakan band Asia kedua yang mampu menembus salah satu festival musik terbesar di Amerika itu.

“Kami bangga menjadi band pertama di Indonesia dan band kedua di Asia yang mampu menghentak publik Amerika melalui festival itu,” kata pembetot bass SID, Eka Rock.

Sebelumnya, band asal Negeri Tirai Bambu, China, telah berhasil terlebih dahulu unjuk gigi dalam festival musik Amerika itu. Vans Warped Tour merupakan festival musik terbesar di Amerika yang menampilkan band-band independen, seperti NOFX, Green Day dan The Offspring.

Direktur Senior Artis dan Repertoar Sony BMG Indonesia, Jan Djuhana mengatakan Sony BMG bangga dengan prestasi SID di kancah internasional.

“SID menjadi kebanggaan karena mewakili Indonesia dalam pentas musik internasional dan disandingkan dengan band-band tenar seperti NOFX dan The Offspring,” katanya.

Sebanyak 16 kota di Amerika yang akan dikunjungi SID yaitu Philadelphia, Baltimore, New York, Seattle, Los Angeles, Pomona, San Fransisco, Ventura, Phoenix, Las Cruces, San Antonio, Houston, Dallas, Indianapolis, Pittsburgh, dan Cleveland

Baris Video

didukung oleh






superman is dead mendunia

Jangankan untuk skala lokal Ball, dalam lingkup nasional sekalipun cuma ada sedikit band yang mampu melewati satu dasa warsa. Superman Is Dead (SID) adalah satu dari segelintir kelompok musik yang sanggup eksis bukan hanya melewati rentang sepuluh tahun tapi juga, hebatnya lagi, dengan personel yang sama, tak berubah, sejak awal berdiri.
Benar, ketika grup lain untuk terus bertahan berdiri tegak harus melalui rangkaian proses bongkar pasang, SID sama sekali tidak. Dari sejak merilis album pertama, Case 15, pada tahun 1997, hingga album ke-4 yang rencananya dirilis pada penghujung 2008; anggotanya ya masih dia-dia lagi: Bobby Kool (biduan, gitar), Eka Rock (bas, vokal latar), serta Jrx (drum). Dan kekompakan trio ini, sejauh yang saya tahu, adalah bukan sekadar kosmetik, “lips service”, semata buat konsumsi publik, dangkal di permukaan saja. Sedemikian solid dan (relatif) seiya-sekatanya hubungan antar personel ini sedari awal, pasti bukan perkara gampang. Berkaca saja pada diri sendiri, evaluasi ke dalam dulu, apa bisa kita konstan menjaga harmoni kekerabatan sebegitu panjang dan lama? Jika anda perkasa bilang, “Tentu bisa”, well, anda patut mega jumawa. Sebab anda termasuk satu dari sejuta yang sukses melakukan itu. Walau begitu, saya berani bilang, anda masih belum sejajar dengan SID karena yang lebih kompleks lagi adalah sungguh tak mudah rapi jali menata kerukunan para seniman. Wih, itu mah susah banget! Jamak diketahui, seniman pada umumnya, dan musisi pada khususnya, adalah sosok anomali, berbeda dengan orang kebanyakan, menjalani hidup dengan caranya sendiri, emosinya liar lagi labil, plus yang pasti: punya ego dengan kadar menjulang. Pendeknya, musisi itu sulit diatur. Baik diatur oleh orang lain maupun mengatur dirinya sendiri. Sudah begitu, silakan amatiran analisis band kawakan nasional yang anda kenal, pelajari dinamikanya, lalu monggo munculkan, ndak usah banyak-banyak, cukup satu institusi saja—yang selevel SID—yang interaksi domestiknya “ijo royo-royo” alias tak pernah gonta-ganti sejak dini hingga kini. Nah, ada tidak? Sampai hari ini, sejauh yang saya tahu: tidak ada, belum ada, susah ada.
Superman Is Dead band photo 02
superman is dead
Berpijak dari situ, dalam konteks Bali, di soal menuju bintang, keserasian koneksitas ke-3 pria penyuka sepeda low rider ini patut dijadikan suri tauladan. Bagaimana mereka berjuang dari bukan siapa-siapa, naik peringkat menduduki klasemen tertinggi blantika musik Pulau Dewata, hingga meraih respek tingkat Nusantara. Dus, jika tiada sengkarut di perjalanan karir, sejengkal lagi predikat “living legend” akan tergapai (indeed, siapa bilang Bali tidak bisa?) Sekali lagi, berpijak dari situ, semangat pantang menyerah macam begitu pantas dicontoh oleh kontingen musisi lokal untuk menolak mati muda serta terus berjuang menggondol mimpi gigantik. Jangan langsung muluk-muluk berharap agar fantasi “go-national” bisa direnggut atau setia digjaya tanpa mutasi anggota, persis SID. Tak usah belum apa-apa sudah berpikir soal distribusi nasional, menyasar label mayor tertentu, agresif menjalin kontak dengan lusinan media massa bergengsi. Mulai saja dengan pembenahan internal. Ambil hikmah dari jaya-wijayanya SID. Berangkat dari 2 titik dulu:
1.    Satupadukan Visi & Misi
Tentukan segera, genre musik maunya apa, pop atau rock atau campuran keduanya atau mengikuti proses evolusi. Jangan pas di tengah perjalanan berselisih keras karena salah satu anggota memaksakan, katakanlah, kehadiran disc jockey sebagai pelengkap. Ketahui sejak sekarang batasan-batasannya.
Jika satu sama lain sudah berada dalam satu kelompok cukup lama, telah cukup dewasa, mantapkan hati, ambil keputusan, nge-band ini cuma buat senang-senang atau justru berniat serius. SID mungkin di tahun-tahun pertama belum berpikir sejauh itu, tapi, fren, era 90-an itu berbeda dengan masa sekarang. Hari ini, sebagian besar anak muda pikirannya cukup seragam: nge-band = ultra cool, , nge-band = bikin beken, nge-band = mudah memikat lawan jenis. Artinya: rival anda bejibun. Artinya: kompetisi duh-gusti semakin ketat. Artinya: don’t waste more time, make up your mind, to be or not to be.
2.    Manajemen Ego
Ini yang susah, masing-masing anggota kudu tahu kapan bersikeras meyakinkan teman bahwa pendapatnya sahih kapan mengambil sikap mengalah. Kalau memang mau langgeng, mulailah belajar menghargai orang lain, tabiat mau menang sendiri harus bisa anda tekan ke titik terendah—kecuali konsep yang anda terapkan sejenis Megadeth: Dave Mustaine sebagai kapten (diktator?) yang memiliki otoritas absolut.
Jika anda piawai mengelola ego, hubungan antar personel terjaga apik, niscaya keutuhan kelompok akan terjaga dan akan menjadi lebih tahan banting. Tak cepat patah arang saat terjegal aral melintang. Untuk itu ada baiknya menghadirkan manajer yang selain melakukan tugas profesionalnya sebagai ketua “tim sukses” juga merangkap menjadi penjaga ritme agar tali silaturahmi antar anggota terjaga selalu selaras.
Mulai saja dari dua isu itu dulu. Jika bisa anda tangani dengan baik, silakan lanjutkan perjalanan. Kemungkinan kelompok anda tercerai-berai di tengah jalan relatif tipis. Kans kontingen anda untuk maju lebih gede. Sebaliknya, jika hanya satu faktor saja yang bisa anda penuhi, well, ambil langkah santun pula bijak: bubarkan band anda. Atau cabut dari situ, bangun mimpi baru. Sebab jika cuma sebiji persyaratan yang bisa dijalankan sama saja dengan buang-buang waktu. Dipahami?

sejarah suicidal sinatra

Terbentuk di Bali pada tahun 1996 awalnya dengan mengusung nama S.O.S. (Soul Of Speed) yang jika dilihat dari namanya tegas menyiratkan genre musik yang diminati yaitu Heavy Metal utamanya Helloween.

Pada fajar 2001 S.O.S. pelan-pelan bergeser dari genre Heavy Metal menuju Rockabilly a la Living End serta diramu dengan Psychobilly tipikal Tiger Army & Reverend Horton Heat (campur sari ini mereka istilahkan sebagai “Rockabilly Nu Skool”). Sampai kemudian 14 Februari 2004 S.O.S. merilis album indie pertama bertajuk “Valentine Ungu”. Album yang berisikan 8 lagu ini seakan mendeklarasikan S.O.S. telah resmi pindah jalur ke Rockabilly Nu Skool.

Album Valentine Ungu sendiri mendapat respon positif dari pasar, dimana 700 keping segera saja ludes habis terjual. Beberapa media massa nasional memberi komentar cukup baik terhadap Valentine Ungu. Sementara komunitas Indie di Jakarta sempat pula mencicipi dahsyatnya performa mereka saat mengguncang GOR Jakarta Utara dan hajatan kampus Universitas Sahid pada pertengahan 2004 silam.

Untuk melengkapi perubahan identitas musikal dari Heavy Metal ke Rockabilly Nu Skool maka pada 16 Agustus 2004 S.O.S. formal berubah wujud menjadi SUICIDAL SINATRA (terjemahan bebasnya : Frank Sinatra dalam versi yang lebih garang/nekat ). Sinatra—dengan personil terakhir Opix Sinatra (biduan, gitar pendamping), Leo Sinatra (gitar utama), Kappe Sinatra (bass betot), Ajie Sinatra (drum)—di saat hampir bersamaan pada akhir 2004, menyabet gelar prestisius sebagai kelompok musik terbaik di ajang Indie bergengsi “Skool Of Rock” sesi ke II yang diselenggarakan oleh Hard Rock CafĂ©, Bali.

Tepat setahun setelah dirilisnya Valentine Ungu, pada Februari 2005 Sinatra menerbitkan mini album ”Love Songs & Stinkin’ Cheese” dengan 5 tembang cadas bertempo sedang: “White Shoes”, “No Money No Honey”, “Can’t Be Ur Man”, “Going Old With You”, serta “Kentang”.

Eksistensi “Love Songs & Stinkin’ Cheese” ternyata sanggup menculik perhatian jajaran media nasional berpengaruh mulai dari Hai, Trax, Ripple, hingga Rolling Stone. Malah Rolling Stone secara tegas memberi Sinatra gelar terhormat dengan menempatkan Sinatra sebagai “Artists to Watch” di salah satu edisinya. Ekspose yang demikian gencar akhirnya menggugah para event organizer untuk mengundang Sinatra tampil dalam konser-konser bergengsi. Yang patut dicatat di antaranya adalah kehadiran mereka sebagai band panggung utama di Soundrenaline Bali pada Agustus 2005. Sementara single “White Shoes” penetrasinya cukup jauh hingga mencapai Jepang. Single tersebut disertakan dalam album kompilasi “Tropicalize II” disatukan dengan artis-artis besar macam Pennywise & Jack Johnson. Dan videoklip “White Shoes” juga menorehkan jejak prestasi fenomenal dengan meraih juara pertama dan bertahan hingga beberapa minggu di chart videoklip indie Global TV.

Pada 2007 Sinatra akhirnya merilis album–yang frontal mengekspresikan pilihan genre mutakhir mereka—bertajuk “Boogie Woogie Psychobilly”. Benar, Sinatra telah mengukuhkan dirinya sebagai band pioneer Psychobilly di Indonesia.

Boogie-Woogie-Psychobilly… Drink whiskey and cheap Martini…


ARTIST DETAILS
Nama: SUICIDAL SINATRA
Tanggal/Tahun Berdiri : 16 Agustus 2004
Genre: Psychobilly/Rockabilly Nu Skool

Personnel:
1. Leo Sinatra (gitar & vokal)
2. Kappe Sinatra (stand up bass, vokal latar)
3. Ajie Sinatra (drum)


DISKOGRAFI
1. Valentine Ungu
Rilis: 2004

2. Love Songs & Stinkin’ Cheese (EP)
Label: Electro Hell Records
Rilis: 2005

3. Boogie Woogie Psychobilly
Label: Electro Hell Records
Rilis: 2007

4. Tropicalize vol. II (kompilasi)
Lagu: White Shoes
Label: (label dari Jepang)
Rilis: 2006

5. Moshpit Mavericks (kompilasi)
Lagu: Iblis Surga
Label: The Blado Beatsmith
Rilis: 2007

ADDITIONAL INFOS
Influenced by: The Living End, Tiger Army, Mad Sin, Reverend Horton Heat, The Clash, Johnny Cash, Frank Sinatra

Gigs Terbaik:
1. Panggung Utama Soundrenaline, Denpasar, 2007
2. Tour bersama 7Crowns, Bali-Malang-Surabaya-Gresik-Yogya, 2006
3. Panggung Utama Soundrenaline, Denpasar, 2005
4. Thursday Riot at Parc, Jakarta, 2005